Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016
kalau nanti kita bertemu tawari aku secangkir kopi, iya? seteguk saja tak apa setelahnya kita lihat siapa yang lebih menarik? bagaimana? dan coba bayangkan kita berdua dibranda, di sebuah rumah mungil yang ku design sendiri dengan segenap rasa menikmati secangkir kopi dan cahaya lampu-lampu yang ku tata sedemikian rupa ditaman mini depan rumah (mengapa? supaya kau tak perlu bersusah payah menemaniku jalan-jalan hanya untuk menikmati indahnya view lampu kota setiap harinya hahaha!) lalu kau bertanya, atau tidak kopi dan diriku? kau lebih suka mana? kopi tentunya ''jawabku'' kau mulai cemberut? tak usah kau pasang wajah murung, kau jangan marah, aku tidak akan membandingkan kamu dengan secangkir kopi kalau kamu juga penikmat kopi sejatinya kau akan faham tentang filosofi kopi lalu, Ah sudahlah tak perlu ku jelaskan, tentunya kau lebih pintar dariku. iyakan? Ah, wajahmu kebingungan tak usah kau mngerti apa maksud ocehanku tadi yang jelas kamu dan kopi, prioritasku Maafkan...
Ada yang ku tanggalkan selain sisa pahit di mulut dan bekas ampas kopi Ada yang ku tanggalkan malam tadi rasa di bibir yang kian pekat muncul di permukaan bersama segala bayang tentangmu tentang perjumpaan kita menyibakkan kumpulan asap rokok dari orang-orang samping kanan-kiri aku temukan kita dalam satu kali bayang pada suatu kedai kopi bibir kita penuh tanpa menyisakan spasi bersenggama tanpa sela sampai pagi tiba sampai akhirnya kau beralih pergi dari imajinasiku dan yang tersisa pagi ini mungkin hanya sisa ampas kopi, pahit, dan imajinasiku tentang bibir kita yang saling mengecup Malang, 25/9/16 11:50 Am.
Berdo'alah sebanyak-banyaknya Sebab do'a-do'a yang berperan menjadi mata untuk menatapnya lama-lama menjadi tangan untuk menyentuhnya berjam-jam menjadi peluk yang senantiasa menyembuhkan pada matamu pada matamu segala rahasia bermula juga mekar senyummu sebagai pertanda iya, tentunya, segalanya, kupercayakan pada Semesta. Dia punya cerita yang lebih istimewa namun, Pada setiap coretan-coretanku ini Kubiarkan kau memahami ketakutan-ketakuan di dalam hatiku sebagai doa paling manis Hujan siang ini Malang, 23/9/2016 1:33 Pm.
Semesta tangan ini tetap setia mengais-ngais sisa bahagia yang semu, abu-abu dan tak terpegang lagi Semesta, Hati bukanlah benda mati Manusia dan sejuta tanda tanyanya bahagia itu diciptakan ,bukan dicari kataku pada diri sendiri. mencari itu membuat lelah aku tidak bohong protesku pada diri sendiri, lagi mari kita temukan bahagia kataku lagi, kemudia senyuman Malang, 20/9/16 9:15 PM.
Daun dan luka saat daun kering berjatuhan angin hujan membelai diri aku terdiam terpaku saat kau memilih tinggalkan ku Kasih, kau tak tau rasanya hati tersayat. Luka itu terbuka, menusuk, lalu semakin hari kian membusuk. Saat kau memilih untuk pergi, Dan tak bisa mengobati luka ini Aku hanya bisa berdiam dan menikmati rasa pedih dihati Hati yang sudah membusuk tak akan bisa diobati dengan senang hati Kasih, bisakah kau pergi tanpa meninggalkan rasa pahit yang aku alami? Tapi, bukan sakit yang aku sesalkan. Bukan perihal kehilanganmu jua yang aku bingungkan. Tapi ini soal komitmen. Kau bilang aku segalanya. Nyatanya, aku ada hanya untuk cintamu yang lainnya. hati berucap berkali-kali, berteriak menolak kenapa engkau selalu mudah mengucap kata pisah, itu sangat sakit. sungguh Maaf, mungkin hanya diriku yang terlalu berharap belas kasihmu Hanya diriku yang terlalu lebih menyayangi dariku yang selalu punya perasaan mendalam untukmu. Malang, 19/09/2016
aku bertanya padamu, ya lebih tepatnya pada bayangmu puisi apa yang kau dengarkan disenja kali ini? atau sedang mendengarkan lagu kenangan yang menghadirkan senyuman? berteman secangkir kopi? atau bisa saja berteman dengan secangkir teh hangat yang asap kepulnya berbicara tentang rindu maaf, aku terlalu cerewet terlalu banyak tanya yang semestinya tak akan kau jawab bisa dikata, aku sedang berbasa-basi hehehe hei puisi apa yang sedang kau dengarkan disenja kali ini? baiklah, kulihat kau masih diam dengan segala fikiran yang mencurimu, sepertinya dan ketahuilah, hanya ada satu puisi yang selalu tersemai bahasa kasih yang tiada terdefinisi ketulusan Malang, 17/9/2016 5:32 Pm.
Tahukah kau? Rindu ini membawa aku pada kehampaan, hampa tanpa kau  Sinar rembulan seakan redup, tertutup awan malam hari. Sama dengan hati ini. Satu hal yang mampu menenangkan rinduku adalah aku percaya dengan janji.  Janji kau ucap tempo hari.  Meski kadang aku  takut hilangmu membuat patah semangat ini. Semoga rindu ini tetap tertuju padamu  hingga kita menua pada akhirnya. Untuk esok yang masih menjadi rahasiaNya, kuharap itu dirimu Malang, 17/09/2016