Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2016
Gambar
mana yang lebih indah saat kau pandang? ketika aku berpuisi dan bercerita? atau ketika aku sedang melukis? atau ketika aku sedang cemberut? hanya saat mengingatmu, semua hobby ku menjadi lebih bermakna. cukup jangan jawab, aku ingin mendengarnya langsung darimu. malang, 26/8/2016
hai laki-laki istimewa :) aku harap kau selalu baik-baik saja disana sudahkah kau merindukan ku hari ini ? hihii Aku suka mengingat hal-hal indah yang membuat perasaan ini gembira. Semua indraku serasa terkoneksi dengan memoriku, mengambil dan memutar kembali memori-memori itu. Wangi itu, wangi aroma tubuhmu bercampur kringat, aku suka wangi itu. Aneh? bairkan saja. aku suka. Aku sering berjalan sendiri, diantara mereka yang tak memperdulikan siapapun kecuali kepentingan mereka sendiri, di dalam keramaian, diantara kesumpekan udara sore bercampur keringat dan bau matahari. Ah, kau bisa bayangkan. Aku tersentak berdiri dan diam. Hingga udara berhembus, memainkan jilbabku, dan membawa wangi itu. Membawa sesuatu yang sudah kucoba untuk kupendam dan kusimpan. Tanpa ku pinta, tanpa basa basi, wajahmu, tubuhmu, terbentuk di dalam ingatanku hanya karena wangi itu. Padahal, entah wangi siapa dan darimana. Tapi ia berhasil menarik pertahanan diriku. Lagu itu, aku suka menyanyikannya d...
Teruntuk kekecewaan Malam dan dingimu memeluk setelah hujan deras sore tadi Ada banyak anak genangan air yang tak sejernih hujan kali ini Telah bercampur dengan berbagai jejak kaki dan sandal yang terpakai Kecipak air tak menenangkan Buku di tangan masih belum menenangkan Apa yang kau lakukan membuat retakan di dada menjadi menganga Dengan apa kau menyadarinya? Dengan hati kalut yang tak sebahagia dulu? Dengan apa aku mengobatinya? Dengan ikhlas Ya dik. Itu jawaban kawanku malam itu Semakin kau bisa berdamai Dengan sakit hatimu semakin kau bisa menenrimanya Hidup ini memang kadang tentang menunggu, menunggu kita menyadari kapan kita akan berhenti menungu #tulisan Lasem, at ponpes nailunnajah  18/06/2016 21:26 PM.
Berpuluh-puluh senja terlewati seorang diri Menikmati sapuan angin dan jengkal hati yg tak lagi rapih Terkadang menyapu jilbab, bersih Datang dan pergi tanpa permisi Mengetuk hati dengan cara yg manis, namun melangkah dan pamit dengan cara yang sadis Kau tinggalkan beribu jejak kaki yg timbul Kau merusak barisan pasir yg ku tata Kau lakukan itu berkali-kali tanpa memperhatikan raut wajah perempuan yg bersusah payah merapikannya kembali Kau masih bisa melihat kan? Tatapan sembab itu masih berbicara tentang sabar Lamat-lamat tetap berdo'a Masih bisa tenang Bahkan kali ini senja tetap pamit dg cara yg manis, walau tak semanis harapan yg ku tulis #tulisan Lasem, 20/6/2016
Seperti hujan. Kita tak bisa mengatur pada siapa hujan boleh membasahi. Tapi kita bisa mengendalikan diri, jika tak ingin terkena basahnya, apa yang harus dilakukan. Pun cinta. Kita tak bisa mencegah siapa-siapa yang boleh/tidak untuk mencintai kita. Tapi sekiranya di hati sudah bertahta seorang nama, bisalah kiranya kita menjaga hati hanya untuknya saja. Tak ada lagi pintu apalagi tempat untuk yang lain singgah. Jangan usir mereka untuk menutup diri. Biarkan mereka datang dengan baik, lalu melihat bahwa di dalam hati kita sudah ada sang tuan rumah. Jika dia sopan, kiranya dia malu untuk memasuki rumah yang telah bertuan. Hingga pergi baik-baik. Karena hati, adalah tempatnya satu tuan rumah saja. Tidak dua, apalagi tiga. *dikutip dari catatan LDR Malang, 12/8/16 10:41
Gambar
Senja selalu menghadirkan perasaan yang sulit di definisikan. sulit ku lukiskan Semacam rindu, atau serupa cinta. Senja tak mengenal basa-basi dan senyum yang dibuat-buat, seperti ketulusan. Tak memerlukan bahasa. Aku jatuh cinta padamu, seperti aku jatuh cinta pada senja berkali-kali setiap hari Jatuh cinta padamu membuatku mengerti, bahwa cinta bukan soal yang rumit. Semua menjadi mudah, semua menjadi berarah. Yang saling menemukan akan saling menguatkan. Dan yang menyayangimu tak pernah abai mendoakan, tanpa kau minta Malang,12/8/2016
Jalan kita masih panjang, sayang sudah berhari-hari kau lewati harimu dikota lain, ambarawa dan akupun sibuk menggeluti hari-hari libur panjang tanpa sosok mu, disini sudah biasa, mungkin Esok lusa mungkin kau sudah mulai terbiasa dan akupun telah lupa akan malam panjang dengan tumpukan rindu yang menumpuk setinggi gunung, atau mungkin bisa lebih jarak ini sungguh menjadi antagonis yang sungguh sialan, sayang Disana Kau mulai merangkak pelan2 menjalani pilihanmu kesibukan mu sebagai calon Guru, menjadi pria dewasa seperti yang didamba orang tuamu. dan disini akupun sedang sibuk membenahi benang kusut dalam otakku. Kau tau,tidak ada yg perlu kita risau dan debatkan.. itu perkataan hatiku Ya..jalan kita memang masih panjang .. Biarkan seperti ini Sudah..seperti ini saja dan kita akan tetap baik-baik saja malang, 11/8/2016