Aku yang lebih memilih diam dan itu jauh lebih baik…



  Aku tidak mau menjawab apapun saat kamu marah, tapi aku lebih memilih untuk diam. Aku menahan diri agar amarahku tidak terpancing. Bukannya aku lari dari masalah, tapi memang aku memilih diam, karena aku tidak mau api dibalas dengan api. Aku ingin menjadi air saat api sedang membara di dirimu.
  Mungkin kamu menganggapku pengecut, karena selalu diam dalam menghadapi semua masalah. Tapi setidaknya aku bisa meredam amarahku saat menghadapimu. Apa aku harus membalas amarahmu, lalu menghardik keadaan bahkan melontarkan perkataan kasar untukmu? Apakah aku harus begitu?
  Coba kamu pahami dahulu masalahnya, kamu redakan dulu sesaat amarahmu. Aku mencoba untuk tenang, karena aku tidak ingin amarah menyelesaikan hubungan kita. Aku tidak ingin amarah memicu kita untuk bertindak bodoh yang berujung pada akhirnya hubungan kita. Dengan susah payah kita mempertahankan hubungan kita selama ini , lalu haruskah kita menyerah hanya karena masalah sepele ini? Apa itu yang kamu inginkan?
  Aku merasa sakit saat kau menghardikku dan menyalahkanku. Aku memang tidak peka, hanya bisa diam. Entah , kenapa aku bisa bersabar menghadapimu. Seharusnya bukan aku berfikir seperti ini, tapi kamulah yang memikirkan hal ini. Untuk apa kamu marah-marah?Apa dengan marah masalah yang ada bisa selesai? Dan kenapa aku lebih memilih diam? Setidaknya aku tahu, membalas amarahmu sama saja seperti membuang-buang energi dan menyia-nyiakan waktu yang tidak banyak ini dengan tidak langsung menyelesaikan masalah. Percuma. Per-cu-ma.
  Lihat aku disini .apa yang ku lakukan bukan hanya sekedar diam .aku berpikir bagaimana caranya aku bisa bertahan dengan sikap kekanak-kanakanmu. Apa aku harus melontarkan kata-kata kasar agar kamu diam, lalu tersakiti karena amarahku ini? Aku tidak ingin seperti itu.
  Aku sadar kalau diam itu bodoh, tapi lebih bodoh lagi jika ada yang berteriak memarahi si bodoh, tapi sebenarnya dia tidak menyelesaikan masalah apapun. Suatu saat, kita bisa menebak sendiri siapa yang akan kalah karena terlalu banyak mengalah. Justru, aku tidak ingin kita benar-benar kalah . asal kau tahu, aku hanya ingin mempertahankan hubungan kita! Kalau ingin kalah, lalu untuk apa bertahan selama ini? Untuk apa harus merasa sesakit ini karena menahan rindu? Aku tidak takut dengan jarak. Aku hanya takut kalau perjuangan kita untuk mempertahankan hubungan ini akan sia-sia karena pada akhirnya kita benar-benar memilih untuk kalah. Jangan terlalu merasa bodoh karena jarak. Tunjukkan mereka yang menghina kita , menghardik kita, mengucilkan kita, dan menganggap kita bodoh kalau kita baik-baik saja, dan kamu, jangn buat kita semakin tidak baik karena keegoisan dan kelebihanmu.
  Banyak masalah yang pernah kita lewati dengan diam, amarah, dan sakit hati. Pada akhirnya aku memilih untuk tetap disini. Ya , aku tetap disini untuk mempertahankanmu. Dengan diam, hingga masalah mempertemukan kita pasa sosok kita yang sebenarnya, pada kedewasaan.
  Pada Intinya , masalah memang pernah mempersulit kita untuk bertahan. Tidak apa-apa, anggap saja ini adalah ujian agar kita mempertahankan kita yang sebenarnya, aku yakin hal itu akan terjadi suatu saat nanti . ketika masalah sulit untuk terselesaikan mungkin kita bisa menyelesaikannya dengan pelukan. Bahkan, aku yakin bahwa suatu saat nanti kita bisa menyelesaikan masalah tanpa ada pelukan, melaikan dengan kecupan yang akan ku jatuhkan di keningmu. Aku mohon dengan ketenangan hatimu agar kamu mempertahankanku, dengan Ikhlas.
:)

(di kutip dari buku Long Distance Heart. sama-sama saling belajar ya)


Komentar

artikel yang disukai pengunjung

PENGERTIAN ARSIP