Pada pagi hari, kau menjelma doa di setiap bebutir tasbih dan air mata.
Mencintaimu adalah satu dari sebagian iman, di mana hanya akulah yang menjalankannya.
Maka setiap pagi,
aku lebih dulu terbangun dari pada matahari demi sembahyang dengan berdzikir namamu.
Mungkin aku lebih gila dari seorang majnun sekalipun,
dan kau lebih sempurna dari seorang laila, tapi cintaku tak sepandir cinta seorang majnun kepada laila.
Aku mencintaimu dengan sewajarnya,
seperti sudah mengenali derap kaki kehilangan.
Aku mencintaimu dengan cara yang sederhana,
semisal menjadikan luka dan sepi sebagai saudara.
Pada pagi hari, kitalah sepasang cangkir yang tak jua bertemu bibir waktu,
yang terlanjur dingin karena angin dan sepi yang bermain-main.
Malang, 27/5/2016
Mencintaimu adalah satu dari sebagian iman, di mana hanya akulah yang menjalankannya.
Maka setiap pagi,
aku lebih dulu terbangun dari pada matahari demi sembahyang dengan berdzikir namamu.
Mungkin aku lebih gila dari seorang majnun sekalipun,
dan kau lebih sempurna dari seorang laila, tapi cintaku tak sepandir cinta seorang majnun kepada laila.
Aku mencintaimu dengan sewajarnya,
seperti sudah mengenali derap kaki kehilangan.
Aku mencintaimu dengan cara yang sederhana,
semisal menjadikan luka dan sepi sebagai saudara.
Pada pagi hari, kitalah sepasang cangkir yang tak jua bertemu bibir waktu,
yang terlanjur dingin karena angin dan sepi yang bermain-main.
Malang, 27/5/2016
Komentar
Posting Komentar