Aku tidak mau menjawab apapun saat kamu marah, tapi aku lebih memilih untuk diam. Aku menahan diri agar amarahku tidak terpancing. Bukannya aku lari dari masalah, tapi memang aku memilih diam, karena aku tidak mau api dibalas dengan api. Aku ingin menjadi air saat api sedang membara di dirimu. Mungkin kamu menganggapku pengecut, karena selalu diam dalam menghadapi semua masalah. Tapi setidaknya aku bisa meredam amarahku saat menghadapimu. Apa aku harus membalas amarahmu, lalu menghardik keadaan bahkan melontarkan perkataan kasar untukmu? Apakah aku harus begitu? Coba kamu pahami dahulu masalahnya, kamu redakan dulu sesaat amarahmu. Aku mencoba untuk tenang, karena aku tidak ingin amarah menyelesaikan hubungan kita. Aku tidak ingin amarah memicu kita untuk bertindak bodoh yang berujung pada akhirnya hubungan kita. Dengan susah payah kita mempertahankan hubungan kita selama ini , lalu haruskah kita menyerah hanya karena masalah sepele ini? Apa itu yang kamu...
Pengertian Arsip a. Secara bahasa Arsip berasal dari bahasa Indonesia ada kata yang menyebutkan sebagai “warkat”, pada pokoknya dapat diberikan pengertian sebagai catatan tertulis baik dalam bentuk gambar ataupun bagan yang memuat keterangan-keterangan mengenai suatu subyek (pokok persoalan) ataupun peristiwa yang dibuat orang untuk membantu daya ingat orang (itu) pula”. b. Menurut Undang-Undang nomor 7 tahun 1991, arsip adalah : 1) Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh lembaga-lembaga Negara dan badan-badan pemerintah dalam bentuk corak apapun baik dalam keadaan tunggal maupun berkelompok dalam rangka pelaksanaan kegiatan-kegiatan pemerintah. 2) Naskah-naskah yang dibuat dan diterima oleh badan-badan dalam bentuk tunggal maupun berkelompok dalam rangka pelaksanaan kehidupan kebangsaan. c. Menurut Drs. The Liang Gie dalam bukunya Administrasi Perkantoran Modern, Arsip adalah suatu kegunaan agar setiap kali diperlukan dapat secara c...
Pada pagi hari, kau menjelma doa di setiap bebutir tasbih dan air mata. Mencintaimu adalah satu dari sebagian iman, di mana hanya akulah yang menjalankannya. Maka setiap pagi, aku lebih dulu terbangun dari pada matahari demi sembahyang dengan berdzikir namamu. Mungkin aku lebih gila dari seorang majnun sekalipun, dan kau lebih sempurna dari seorang laila, tapi cintaku tak sepandir cinta seorang majnun kepada laila. Aku mencintaimu dengan sewajarnya, seperti sudah mengenali derap kaki kehilangan. Aku mencintaimu dengan cara yang sederhana, semisal menjadikan luka dan sepi sebagai saudara. Pada pagi hari, kitalah sepasang cangkir yang tak jua bertemu bibir waktu, yang terlanjur dingin karena angin dan sepi yang bermain-main. Malang, 27/5/2016
Komentar
Posting Komentar