Tak perlu ku namai rinduku
Ia cukup rupawan untuk diingat
Kelak, meski tiada lagi aku dalam ingatanmu
Kau tetap akan merasa bahwa, pernah ada rindu yang rewel juga manja kepadamu 
Lalu akan ada hari dimana sepimu mencari aku
Pun tubuhmu merindukan pelukanku
Sementara tak ada yang dapat kau lakukan selain merayakan kehilangan

Aku pernah menawarkanmu sebuah tahun-tahun penuh pelukan
Namun kau memilih kedinginan
Aku pernah menawarkanmu sebuah kamar di ruang hati
Namun kau memilih berdiri di depan pintu yang terbuka

Aku mengutuk segala peluk yang memelukmu
Yang takan pernah memberikanmu hangat kecuali pelukanku
Aku mengutuk segala sapaan yang menyapamu
Yang takan pernah memberikanmu sapaan hangat kecuali sapaanku
aku mengutuk segala rindu yang menghampirimu
Yang takan pernah memberikan debar kecuali rinduku
Aku mengutuk segala cinta yang kau kejar
Yang takan pernah memberikanmu ruang kecuali cintaku
kamu pernah tau ketika aku menangis diam-diam setiap larut menjelang pagi?
tidak! karena enggan perduli bukan?
tapi aku tetap menikmatinya
seperti sepi dan ramai. keduanya menghadirkan cerita
kesepian bagiku seperti hari yang sibuk, 
sedang merindukanmu adalah pekerjaan yang tak boleh ku tinggalakan. 
Kehilangan bagiku seperti sebuah arloji yang mati, 
aku tak lagi mengenal waktu juga hari esok, 
sedang kenangan bagiku seperti tahun-tahun keemasan yang di hadiahkan Tuhan. 
Luka bagiku seperti iman, ku nikmati, ku tekuni, aku mengabdi. 
Sebab, dari lukalah jalanmu meraihku, jalanku meraihmu. 
Sebab, dari lukalah, kau belajar memahami bagaimana ketakutanku, bagaimana kesepianku. 
Sebab, dari lukalah, aku membaca ragumu. Kamu bagiku seperti sebuah sajak, 
yang rela ku tulis semalam suntuk. 
Dan Kamu bagiku seperti dunia yang tak punya kiamat.

Malang, 28/5/2016
05:34 AM.

Komentar

artikel yang disukai pengunjung

Aku yang lebih memilih diam dan itu jauh lebih baik…

PENGERTIAN ARSIP