aku sudah rampung menulis tentang nafas, senyum, air mata, serta tatapmu padaku. kerinduan yang serta merta berdenyut dijantung malam-malamku yang telah lalu.

kau harus tahu bahwa ingatanku lembur bekerja untuk merekam semua itu. dan aku terjemahkan semua kejadian itu kedalam bentuk tulisan. bahwa sesering mungkin aku menulisnya hanya demi perasaan takut kalau-kalau pada akhirnya engkau berlari namun tak terkejar. juga perasaan takut akan suatu zaman yang akan melenyapkan segalanya. aku tak bisa membayangkan bagaimana pedihnya jika kau tak ada diingatan itu. kini file-file acak itu berjejer rapi difolder pribadiku. sebatas itu.

pernah aku berniat mengirimkan tulisan-tulisan itu kepenerbit atau kalau ndak ya aku posting disosmedku, secara serial. namun malam ini kau hadir ke dalam mimpiku , berjalan kearahku, tersenyum dan berkata "permata, mutiara, barang berharga, dan perhiasan lebih baik diletakkan ditempat paling aman dirumah kita. biar kita saja yang mengetahui kemewahannya. tidaklah patut jika semua itu kamu letakkan diruang tamu". aku terbangun & memandang langit-langit kamar, kini aku menyaksikanmu didalam diriku yang menolak dikuasi oleh rindu.

Udara malang sangat dingin, aku terjaga. kembali.

Malang [Shaum Romadhon]
Mei 2017.

Komentar

artikel yang disukai pengunjung

Aku yang lebih memilih diam dan itu jauh lebih baik…

PENGERTIAN ARSIP